Kamis, 30 Agustus 2018

KKN (Kuliah Kerja Nyata) Desa Mekarjaya


HARUM SEMERBAK DESAKU MEKARJAYA
Desi Ayu Lestari

APA ITU KKN ?

Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang pertama adalah pendidikan, dimana pendidikan merupakan proses menuntut ilmu dari semester 1 sampai semester 7, mengkupas satu demi satu ilmu, dan pengetahuan secara formal dan nonformal, mulai dari makalah, presentasi dan organisasi. Yang kedua adalah penelitian, penelitian merupakan survei terhadap proses pembelajaran disuatu tempat mencari informasi atas apa kekurangan dan kelebihan juga keadaan dan kebutuhan yang ada dari suatu instansi. Yang ketiga adalah pengabdian, pengabdian di UIN ini ada berbagai macamnya, di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, setiap tahunnya menerapkan pengabdian ini dengan matakuliah PLP (Pengenalan Lapangan Persekolahan) pengabdian di suatu sekolah selama 6 bulan, mulai dari menyusun RPP, mengajar, menerapkan strategi pembelajaran, memanfaatkan media pembelajaran, membantu guru-guru sampai membimbing siswa/i tumbuh menjadi dewasa dalam pengetahuan, keterampilan juga sikap. Adapula macam pengabdian yang di sebut KKN.

Kuliah Kerja Nyata yang biasa disingkat dengan KKN. Matakuliah, dimana sudah kudengar ceritanya setahun yang lalu dari orang terdekat, namun sayangnya mereka bukan dari jurusanku Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah  atau bahkan fakultasku Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Jauh sebelum memasuki bulan maret 2018, sudah banyak info yang beredar bahwa di tahun 2018 ini merupakan tahun pertama dimana FITK dengan 12 jurusannya mengadakan matakuliah Kuliah Kerja Nyata dengan serempak. Biasanya di Fakultas Ilmu Tarbiayh dan Keguruan ini hanya mengadakan matakuliah PLP, namun di tahun 2018 ini terealisasi akan pengadaan matakuliah KKN di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan. 

Maret 2018 awal pendafatan matakuliah KKN, kami dilema akan kejelasan informasi yang beredar, karena belum ada informasi yang pasti dari Kepala Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah ini, bahkan pengarahan untuk pendaftaran, juga hal apa saja yang harus disiapkan. Karena belum ada kejelasan, sayapun lengah dan sadar belum mendaftar KKN di H-1 penutupan pendaftaran. Saat ingin mendaftar, ternyata AIS (Academic Information System) sedang bermasalah, sehingga tidak bisa login dan mendaftar KKN. Sekitar 6 orang temanku juga belum mendaftar KKN, akhirnya kami mendatangi PPM, ternyata disana bukan hanya kami, bahkan ada banyak mahasiswa dari fakultas dan jurusan lain yang belum mendaftar. Akhirnya dari PPM pak Jaka memberikan kami waktu dua hari setelah AIS dapat digunakan. Alhamdulillah kami saling mengingatkan satu sama lain, dan akhirnya kami berhasil mendaftar matakuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Disebarkannya nama-nama kelompok KKN pada tanggal 10 April 2018, dimana orang-orang sibuk mencari teman kelompoknya, keesokan harinya saat aku buka WA ternyata sudah ada yang memasukanku kedalam grup WA. Pada tanggal 26 April, tersebarlah informasi pembekalan KKN di Auditorium Harun Nasution, setelah pembekalan kita mengadakan meet up pertama kali, tidak ada satu orang pun yang saya kenal, karena tidak semuanya kumpul, hanya setengah dari 19 orang, berdiskusi menentukan struktural pada kelompok KKN 120, yang disepakati bahwa ketuanya adalah Rafi dan wakilnya adalah Alfi, dan aku sendiri di tunjuk sebagai wakil sekertaris dari Vio. 

Banyak pertemuan yang kami jalin, mulai dari makan bersama, silaturahmi, memberikan nama kelompok KKN PEMUDA (Pengabdian Mahasiswa Untuk Daerah) 120  dan juga rapat, rapat kami membahas tentang proker, persiapan sebelum KKN, juga kebutuhan kami selama sebulan KKN dimekarjaya. Kami pernah mengadakan rapat khusus dengan dosen, Muh Fudhail Rahman, MA selaku dosen pembimbing KKN kelompok 120 sebanyak dua kali, pertama sebagai perkenalan, kedua sebagai arahan proker yang akan kami jalankan selama KKN di Desa Mekarjaya. Sasaran proker kami mendahulukan pada skill yang dimiliki dari masing-masing orang pada jurusan yang diampu, seperti mengajar dari tarbiyah, pengolahan sampah dan kerajinan bros dari saintek, tabliq akbar dari keagamaan, perayaan 17 Agustus dan pengadaan plang jalan dari jiwa kepemudaan. 

Tiga kali kami melakukan survei ke Desa Mekarjaya, yang pertama kali survei melewati jalan parung panjang, dimana jalan ini berlubang dan juga debu yang berterbangan. Sampai akhirnya kami menemukan kecamatan Cigudeg dan sampai di desa Mekarjaya. Survei yang kedua kami memiliki jalan yang berbeda, kami memilih jalan Bogor, dimana jalanannya sudah sangat bagus namun waktunya lebih lama, kami menanyakan data Desa Mekarjaya dari pendidikan, ekonomi, sosial dan keagamaan disana. Survei ketiga kami ditemani dengan dosen pembimbing kami pak Fudhail Rahman, menanyakan semua hal yang berkaitan dengan pengabdian kami selama di Desa Mekarjaya ini, seperti tempat tinggal, keadaan warga Desa Mekarjaya dll. 

Pada tanggal 17 Juli kami dikumpulkan kembali oleh ppm di Auditorium Harun Nasution dengan acara pelepasan KKN 2018, yang di hadiri oleh seluruh kelompok KKN 2018, banyak pesan dan informasi yang disampaikan untuk bekal kami ditempat KKN nanti. Setelah pelepasan kami berkumpul kembali membahas bawaan yang akan dibawa dan juga mobilisasi dari kampus sampai ke Desa Mekarjaya. Keberangkatan kami pada tanggal 18 Juli dengan beberapa kendaraan, mulai dari motor, pickup, dan juga mobil pribadi yang diantar oleh keluarga.

PEMUDA 120

Kelompok KKN PEMUDA terdiri dari 19 orang mahasiswa, 13 perempuan dan 6 laki-laki dari jurusan dan fakultas yang berbeda diantaranya FITK (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan), FAH (Fakultas Adab dan Humaniora), FU (Fakultas Ushuludin), FSH (Fakultas Syariah dan Hukum), FIDKOM (Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi), FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), FDI (Fakultas Dirosat Islamiah), FST (Fakultas Sains dan Tekhnologi) dan FISIP (Fakultas Ilmu Sosiologi dan Ilmu Politik) . Di FITK ada Ahmad Syarif Hidayat program studi Pendidik Ilmu Pengetahuan Sosial, Kamilah Birimbiki program studi Pendidikan Bahasa Arab, Wanmuniroh Waeslaemae program studi Bahasa Inggris, Siti Aisah program studi Pendidikan Kimia dan aku sendiri Desi Ayu Lestari dari program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Di FAH ada Mohan Saputra program studi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Siti Nur Assylla program studi Tarjamah. Di FU ada Suhaimy Pasaribu program studi Aqidah dan Filsafat Islam, Sifa Fauziah program studi Studi Agama-Agama. Di FSH ada Dea Maudi Julyanda program studi Perbandingan Mazhab, Satria Rafi Shiddiq program studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalat), Anisa Katria Utami program studi Ilmu Hukum. Di FIDKOM ada Zakaria Azis program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, FDI ada Dewi Mariyah studi Dirosat Islamiyah, FEB ada Astira Elvani Piscelia studi Manajemen, FST ada Alfi Haryo Hutomo dan Hilda Annisa Khairina dari studi Argubisnis, Violita Sadhillah studi Kimia, dan yang terakhir dari FISIP Azizah Putri Rivinia studi Ilmu Politik. 

Orang-orang di kelompok KKN PEMUDA 120 itu solid, dari awal-awal kita ketemu, tidak terlihat bagaimana sifat dan sikap dari masing-masing orang, namun setelah sebulan kami bersama, sangat jelas bagaimana sifat mereka aslinya. Berdasarkan pandangan saya sifat kelompok KKN 120 itu, Dimulai dari syarif, awalnya kenal dia si biasa ajah dan tau kalo dia jago dibidang IT, tapi setelah sebulan kenal nih orang, gokil banget orangnya, tak perduli dengan ledekan orang dia tetep jadi dirinya sendiri. Birbik, tak banyak bicara namun banyak pergerakannya itu saat kita bertemu di rapat sebelum kkn, setelah sebulan bersamanya, diluar dugaan kalo dia itu asik buat di ajak bercanda walau terkadang nyselin tapi dia baik dan pengertian. Wan, dia ini asli thailand yang baru belajar bahasa Indonesia selama dia kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, walaupun beberapa bahasa dia tidak paham, tapi kelancaran dalam berbahasanya cukup baik untuk ukuran orang asing yang belajar bahasa Indonesia secara otodidak, dia mengaku tidak pernah diajarkan bahasa yang aneh-aneh selama kuliahnya seperti kocak (lucu yang berlebihan), madang (makan) dan banyak lagi lainnya sampai di ajarkan bahasa sunda oleh anak-anak desa Mekarjaya yang memiliki budaya bahasa sunda, namun banyak juga bahasa dari thailand yang diajarkan oleh wan sehingga kita saling berbagi.  Aisyah, siapa anak tarbiyah yang tidak kenal dengan presiden kimia tahun ini, ada ajah tingkahnya yang dapat menghibur kita, asik dan bertanggung jawab, banyak kalangan yang menyukai Aisyah ini, mulai dari anak-anak, anak muda bahkan sampai orang dewasa, mungkin karena kecantikan dan keibuan yang dipancarkan dari Aisyah ini, dia ini patner masak dan piket saya juga syarif. mohan, dimana gitar ditaruh disitulah mohan bernyanyi, dengan keahliannya dibidang musik dan seni, mohan mampu mengambil hati anak-anak di desa mekarjaya ini, dan karyanya jelas terlihat dipenutupan KKN kita, yang mampu menghangatkan suasana dengan penampilan anak didiknya, manja banget orangnya, dia pernah sakit dan minta diperhatiin sama yang lain . Sylla, sylla yang dari awal mengajukan dirinya dibidang masak dan sangat terbukti selama KKN ini sylla orang yang sangat bertanggung jawab di bagian masak-memasak, saya yang sangat merasakan terbantunya oleh sylla karena saya tidak terlalu handal dalam urusan masak-memasak, selain jago masak, syla ini memiliki jiwa keibuan yang terlihat dari sikap kedewasaannya. Suhemi, lah coba itu, kampret itu adalah kalimat yang sering keluar dari mulutnya dengan logat medannya yang sangat ciri khas,dia sering sekali menemui temannya dicinta manik, tapi dia sangat perhatian terhadap orang lain, bahkan tidak mau merepotkan orang lain. Ipong, nama yang unik dari nama aslinya sifa fauziah, jiwanya yang menyatu dengan tunas kelapa(pramuka) ini menimbulkan sifat yang asik, seru, haboh, bertanggung jawab dan sangat pengertian, dia ini, ibu dari KKN 120, patner dalam kondi suka maupun duka. Dea, semua yang bersangkutan dengan dana dea lah orangnya bendahara umum KKN 120, mungkin dea ini type yang hedonisme, tapi dia seperti ini karena memang memiliki jiwa berbagi yang tinggi, juga terdengar bawel namun dia asik orangnya dan dijuluki sebagai kepompong. Rafi, dia ini ketua KKN 120, aktif diberbagai organisasi dan pernah mengisi acara di seminar kesehatan KKN 120, namun dia ini sering pulang ke rumah.  Ica, dia cantik, baik, asik, seneng jajan, dan hampir setiap kemana-mana tuh sama dia, care sama orang dan perasa banget, katanya si suka sama salah satu anak KKN 120, hanya saja perempuan lebih tau bagaimana cara menyimpan perasaan dan kepada siapa harus berbagi ceritanya. Zaka, panggilan manisnya jeki, awal kenal dia pendiem dan tertutup banget orangnya, sampai ada suatu waktu kami mampir kerumahnya ternyata dia baik, tapi setelah sebulan mengenalnya parah dia orangnya asik dan seru banget, si cowo paling perhatian dan strong diantara yang lain, paling bisa nyembunyiin masalah dibalik senyumannya.  Dewi, gak tau lagi gimana nyusun kata-kata buat orang ini, seru, asik, penghibur banget buat kita semua, ada ajah tingkanya yang bisa buat kita tertawa bersama dengan tingkahnya, tapi dilain sisi dia juga memiliki sifat dewasa. Asti, banyak yang bilang dia ini manja (maklum anak rumahan), siapa yang pernah mandi sama air galon ya asti orangnya, jarang sekali makan malam karena diet, tapi dia ini baik banget orangnya dan asik juga ternyata. Alfi, dia ini memiliki jiwa kepemimpinan yang mampu mempengaruhi orang lain, dan sangat menghargai dengan pendapat orang lain, terkadang pendapatnya dikorbankan untuk menghargai orang lain, dia pandai dalam berkomunikasi dengan orang, tapi dia kurang baik komunikasi terhadap anak kecil terkadang saat mengajar anak TK dia minta ditemenin untuk ngide. Hilda, pertama kali saya kenal hilda di survei ke dua desa maekarjaya, dia ini pendiam dan tak banyak bicara dan memang di kkn pun dia pendiam tak banyak ucap, tapi kalo urusan masak, Hilda jagonya. Selanjutnya ada vio, awal aku lihat vio di awal pertemuan, dia cantik dan sekertaris di kelompok kami, sebulan bersamanya, dia itu orangnya baik, asik dan mudah bergaul dengan siapa saja, yang menjadi kebiasaan selama sebulan ini, dia selalu telponan dengan gebetannya, sampai-sampai gak sadar lagi ngobrol ternyata dia sedang telponan. Zizah, sudut pandang yang bagus dalam bidang politiknya, tawanya memiliki ciri khas yang membuat orang lain bisa ikut tertawa bersama, dia itu baik, penyabar, periang dan juga penghibur, dan perkataan yang selalu diingatnya ketika dia bilang oh gitu dengan nada khasnya.

            Sebulan kami mengenal satu sama lain, tapi rasanya sudah setahun lamanya kami bersama, banyak momen-momen indah yang selalu saya ingat bersama KKN 120, bukit bintang bersama sekdes, bu lurah, dan staf desa, curug rahong dengan jalan yang berdebu, quality time dengan bakar-bakar dan api unggun, dimana kita berbicara dari hati kehati, penutupan yang sangat berkesan, yang mampu menghangatkan suasana kepada warga Desa Mekarjaya. Candanya masih terngiang di telinga, saat mata dibuka dalam tidurku, saya selalu berharap moment itu kembali lagi terulang.

            Banyak konflik yang kami rasakan, seperti perbedaan dalam pendapat juga penerimaan proker yang ingin kami jalankan. Ada yang memilih untuk diam dan merasakan sakitnya keegoisan, ada juga yang meluapkan emosinya dengan kata-kata, ada pula yang menunjukan sikap tidak disukainya, namun ada juga yang memilih menyelesaikan masalahnya dengan berdiskusi bersama, disinilah kedewasaan kami diuji, tapi karena kami berasal dari anak organisasi juga anak yang mengerti dengan perbedaan, kami tidak pernah merasakan sakit hati yang berkelanjutan, dan saya sendiri menganggap itu adalah batu ditengah sungai yang mengganggu aliran air, setelah melewati batu itu, masalah usai mengalir dengan sendirinya.

DESAKU MEKARJAYA

            Pertama kali kami ke Desa Mekarjaya saat survei sebelelum KKN, Kantor Desa itu berada di pinggi jalan raya dan bersebelahan dengan lapangan utama di sebut sebagai lapangan PTP namun tanahnya bukan milik Desa Mekarjaya, kami bertemu dengan staf Desa kemudian kami diantarkan ke rumah Kepala Desa (kades), Rumah kades tidak terlalu jauh dari kantor desa, masuk ke dalam gg yang bernama dusun Toge, jalan ini tidak bisa dilalui kendaraan beroda empat, dibeberapa bagian jalan, kami menemukan kali kecil dimana ada anak yang menggunakan kali tersebut untuk istinja, melewati turunan namun ada banyak sampah yang berserakan di sekitarnya, terus berjalan sampailah kami di rumah kades, rumah yang dibangun menghadap kesawah dan terbayang bagaimana setiap paginya melihat keindahan bumi pertiwi tanpa asap polusi dan kendaraan berlalu lalang pertemuan kami di terima dengan baik karena waktu sudah sore akhirnya kami pulang kerumah masing-masing. Pertemuan kedua kami survei, kami dipertemukan dengan sekertaris desa (sekdes), rumah yang berlawanan dari rumah kades yang pertengahannya adalah kantor desa itu sendiri.

            Survei yang ketiga ditemani dengan dosen pembimbi                                                          ng KKN 120 pak Fudhail Rahman, kami membabat habis hal apasaja yang berkaitan dengan keberadaan kami selama sebulan nanti, seperti tempat tinggal, keadaan desa dan bagaimana KKN sebelumnya yang mengabdi di Desa Mekarjaya ini. Kami dikasih opsi tempat tempat tinggal, yang pertama di kantor desa lantai dua karena kosong, kedua villa kades yang berada di tengah-tengah sawah jauh dari rumah warga, yang ketiga rumah sekdes yang terbilang luas dan yang keempat villa pak H.Oman ada tiga kamar namun berukuran tidak terlalu besar dan ada kolam ikan yang diatasnya saung. Berlanjut bertanya-tanya tentang keadaan desa ada plus minus yang dapat kita ambil, “Desa yang kental akan keagamaannya yang berlandaskan Nahdotul Ulama namun tidak bisa munafik bahwa didesa ini masih banyak pemuda yang suka minum-minuman yang memabukkan, rendah minat pendidikan dan peduli sampah. Dan KKN sebelumnya ada yang dari UIN dan pakuan di dua tahun sebelumnya, pandangan masyarakat lebiha baik kepada Universitas yang dari pakuan, karena lebih banyak terjun kemasyarakat di bandingkan UIN, dan juga IPDN mengabdi selama 3 bulan namun hanya ke kantor desa tidak pada masyarakat namun di pandang baik oleh staf desa dan juga wakga, karena di akhir mereka membagikan beras kepada warga desa mekarjaya sekitar tempat mereka tinggal”, banyak pula program yang kami bawa tidak diterima oleh warga, seperti pengolahan sampah dan seminar pupuk organik.

            Disambut dengan kata-kata itu membuat kami menaruh keinginan yang sangat tinggi untuk merebut hati warga Desa Mekarjaya, dimulai dari kondisi sosial keagamaannya kami mengajar ngaji di berbagai pengajian, pengajian Ustadzah Atun, Ustad Yaya dan Ustad Syueb, dan kami juga mengikuti pengajian rutin ibu-ibu setiap selasa sore disalah satu pesantren, meningkatkan minat pendidikannya dengan mengajar di Madrasan Ibtidaiyah Mathla’ul Anawar, Taman Kanak-kanak Al-Falah dan juga bimbel di tempat kami tinggal. Sosial kami terhadap masyarakat dimulai dari hal yang terkecil seperti menyapa dan memberi senyuman saat kami lewat, jajan di warung-warung yang berbeda, bermain bersama anak-anak, lari pagi bersama dijalan kelapa sawit, senam bersama ibu-ibu dikelurahan, kerajinan tangan membuat kunciran dan bros di kalangan perempuan, perayaan 17an dengan partisipasi warga yang sangat baik, pembuatan plang jalan, seminar kesehatan dan masih banyak yang lainnya.

            Yang paling berkesan di Desa Mekarjaya ini, kami berhasil menjawab dan membuktikan, dengan mengembalikan kepercayaan warga terhadap UIN Jakarta ini, dari kalimat yang disampaikan oleh bu lurah dan warga lainnya, “senang dengan kehadiran kalian disini, anaknya baik-baik, sopan, santun, sering-sering maen kesini” dan adapula warga yang percaya dengan kami, sampai dia cerita kisah pribadinya dengan kami. Anak-anak yang menangis saat kami pergi dan merindukan setiap malamnya kita berkumpul, bernyanyi bersama, bercerita bersama, dan mengajarkan saya arti kehidupan yang sesungguhnya, di belahan dunia yang masih keluarga kita namun hidupnya tak sama dengan yang saya dapatkan di rumah.

HARUM SEMERBAK

            Di Desa Mekarjaya ini terdapat 4 sekolah SD, 2 sekolah MI dan 1 sekolah SMP tanpa adanya SMA sederajat, ada satu yayasan yang menaungi TK, MI dan SMP Al-Falah, guru-guru disana adalah satu keluarga yang ahli dibidang pendidikan, dan kami mendapat kesempatan untuk mengajar di MI dan TK, TK sudah menghampiri kata sempurna mulai dari sarana prasarana dan tenaga pengajaran, namun di MI sangat jauh dari kata sempurna, dimulai dari ruang belajar, disana ada 5 ruangan, ruangan pertama peruntukan kantor, namun tak layak huni karena banyak buku yang berserakan bahkan ada kecoa dan tikus, ruang kedua untuk kelas 1 dan 2 yang dibatasi dengan jarak bangku 1 papan tulis, dua baris kelas 1 dan dua baris lagi kelas 2, ruangan ketiga sama ruangan kedua, untuk kelas 3 dan 4, ruang ke empat kelas 5 dan ruangan kelima kelas 6, namun kelas 5 dan hanya di batasi papan yang tingginya hanya sepundak saya, atap yang bolong, jendela tanpa kaca, dan ada satu alasan mengapa setelah istirahat mereka terlambat masuk kelas, karena mereka bermain bola di lapangan SDN Bunnar, yang jaraknya lumayan dan harus melewati kali, juga letaknya di atas pemukiman warga dan disekelilingi hutan, bahkan saya pernah liat ada 2 monyet yang bergantungan dengan bebas, walaupun guru-guru sudah mengajukan perbaikan ke pemerintah, namun belum ada tindak lanjut dan jawaban atas ajuan yang mereka berikan,  Guru-guru yang mengajar ada 8 orang, dan mereka merupakan satu keluarga dari satu yayasan Al-Falah.

            Dulu MI Matla’ul Anwar ini adalah sekolah favorite karena sekolah yang mengajarkan kitab kuning dan agama yang tinggi, bayaran hanya dengan beras dan satu-satunya sekolah di Desa Mekarjaya ini, dan sekarang sudah banyak SD Negeri disekitarnya. Walaupun banyak sekolah SD Negeri yang dibangun cukup rapih dan perangkat yang hampir sempurna, masih saja ada orang tua dan murid yang mau sekolah di MI ini, itu menandakan bahwa MI masih dipercaya oleh warga sekitar untuk anaknya menuntut ilmu.

            Dan saya memiliki tiga harapan yang besar terhadap Desa Mekarjaya ini, harapan pertama saya terhadap Desa Mekarjaya ini untuk mementingkan pendidikan, karena pendidikan adalah hak semua orang, banyak anak yang putus sekolah karena beberapa faktor, faktor ekonomi, jarak sekolah, fasilitas yang ada disekolah dan masih banyak lagi yang lainnya, pernah saya berdiskusi dengan warga sekitar, bahwa anak yang sekolah di tingkat Menengah Atas itu hanya 10 orang, khususnya di kampung Toge ini, 2 anak perempuan dan 8 anak laki-laki. Bagaimana Negara ini ingin maju, jika pendidikan mereka terhalang oleh faktor-faktor yang ada. Dan saya juga berharap tenaga pengajaran yang ada di Desa Mekarjaya ini tidak terbatas hanya satu keluarga saja, melainkan banyak orang yang memang memiliki jiwa kependidikan yang tinggi.

            Harapan kedua saya terhadap orang tua di Desa Mekarjaya, ibu-bapak kalian adalah orang tua, dan amanah terbesar kalian adalah anak, dukung perkembangan yang anak inginkan, sisihkan harta kalian untuk anak, mereka butuh perhatian yang lebih dari orang tuanya, jangan jadikan pergaulannya tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan, juga kepedulian kalian terhadap Desa Mekarjaya ini, untuk tidak membuang sampah sembarangan, hidup akan lebih indah jika lingkungan bersih, karena kebersihan sebagian dari iman.

            Harapan ketiga saya terhadap pemuda-pemudi di Desa Mekarjaya, dari awal saya datang, tidak nampak dimana pemuda desa, bahkan mensukseska acara 17 Agustus tidak ada panitia, hanya ada Bu Lurah dan ibu-ibu setempat, tapi ternyata saat acara 17 Agustus berlangsung, baru lah terlihat pemuda-pemudi di Desa Mekarjaya ini. Pesan saya untuk pemuda-pemudi Desa Mekarjaya, kalian adalah pengguncang dunia, kalianlah para pengharum Desa Mekarjaya ini, kalian adalah berlian dan kalian akan menemukan matahari untuk bersinar.  dan kalian harapan dari Desa Mekarjaya ini, aktifkan kembali kegiatan yang ada di Desa Mekarjaya ini, Dan semoga hati kalian tergerak untuk itu Mekarjaya yang lebih baik.

Minggu, 27 Agustus 2017

Ospek



PENGENALAN BUDAYA AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN (PBAK)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2017

Di tahun sebelumnya nama kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus  di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini adalah OPAK singkatan dari Orientasi Pengenalan Akademik dan Budaya, baru di tahun 2017 ini namanya berganti menjadi Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). PBAK merupakan kegiatan dimana mahasiswa-mahasiswi baru ‘’disambut’’ dengan berbagai cara ‘’unik’’ oleh seniornya, dimulai dari atribut yang harus mereka kenakan, yel-yel untuk memberi semangat dan penugasan apa yang harus mereka kerjakan berdasarkan pada Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu penelitian, pengembangan dan pengabdian. PBAK ini berlangsung selama 4 hari, hari pertama Pra PBAK, hari kedua universitas, hari ketiga jurusan dan hari keempat fakultas. Kegiatan ini merupakan kegiatan institusional yang menjadi tanggung jawab universitas untuk mensosialisasikan kehidupan di perguruan tinggi dan proses pembelajaran yang pelaksanaannya melibatkan pengenalan budaya universitas, fakultas, jurusan, himpunan mahasiswa jurusan (HMJ), mahasiswa dan unsur lain yang terkait.

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) sendiri mengedepankan tertib ibadah, tertib belajar dan tertib organisasi dalam penyelenggaraan PBAK pada tahun ini. yang pertama tertib ibadah, dimana ketepatan waktu sholat sangat di perhatikan. Kedua, yaitu tertib belajar, konsisten dalam menjalankan kegiatan yang telah di rencanakan sebelumnya. Ketiga tertib organisasi, di FITK ini sendiri memiliki banyak sekali organisasi dari eksternal maupun internal yang di perkenalkan dan menjelaskan caranya berproses dengan baik. Mentor di sini sangat mempunyai banyak peran dalam mengolah dan menjelaskan kembali apa yang telah di informasikan di lapangan, dan meluruskan pemahaman apabila ada MABA yang masih belum mengerti. Seluru informasi dapat di upload di http://fitk.uinjkt.ac.id/

Salah satu organisasi internal itu ada namanya himpunan mahasiswa jurusan (HMJ). Di FITK sendiri ada 12 jurusan, salah satunya jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Dari HMJ PGMI yang ikut memeriahkan dan mensukseskan acara PBAK ini dengan tema ‘’PGMI BISA (Berfikir, Inovativ, Semangat dan Asik) yang membudi dayakan 5S (salam, sapa, senyum, sopan santun). Hari pertama Pra PBAK dipakai untuk gladiresik upaara untuk pembukaan PBAK dan informasi terkait barang yang harus di bawa dan disiapkan untuk PBAK. Hari ketiga PBAK jurusan, PGMI berada di Aula madya lantai 2. PBAK di jurusan PGMI ini berlangsung sangat meriah dan menyenangkan. Di mulai dari penjemputan jam 07:00 WIB dari depan gedung FITK sampainya di Aula Madya MABA di sambut dengan meriah oleh TIM Hadroh dari mahasiswa PGMI. Di lanjutkan dengan pembukaan,pembacaan ayati suci Al-Qur’an dan sari tilawah dan sambutan-sambutan oleh Egi Fadlullah selaku ketua acara, Novalda Pertiwi selaku ketua HMJ PGMI dan Bapak Dr Khalimi M.Ag selaku Ketua Jurusan PGMI yang sekaligus membuka acara ini.

Pada pukul 08:00 WIB acara inti di Jurusan PGMI ini di awali dengan materi keprodian yang di sampaikan oleh Bapak Dr Khalimi M.Ag selaku Ketua Jurusan PGMI, informasi yang di sampaikan tentang beberapa mata kuliah yang ada di jurusan PGMI, serta pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya tentang keakademisan selain itu membuka sesi Tanya Jawab seputar kuliah. Acara inti di lanjutkan dengan materi ke-HMJ-an yang di sampaikan oleh saudari Novalda Pertiwi selaku Ketua HMJ PGMI, yang memperkenalkan kepengurusan HMJ PGMI priode 2017. Di ujung perkenalan kepengurusan, perwakilan dari DEMA U berkunjung serta memberi salam hangat dan motivasi untuk MABA PGMI. Materi ketiga tentang motivasi dan pengalaman yang di sampaikan oleh para alumni yang di hadiri oleh ka Heri Dermawan, ka Hana Maulana, ka Arif, dan ka Husen dengan bahasan materi Yakin Usaha Sampai, acara berlangsung sangat menarik karena banyak pengalaman dan motivasi yang sangat bermanfaat. Kemudian di lanjutkan dengan penampilan Seni Angklung PGMI dari mahasiswa/i PGMI. 

Setelah itu pada pukul 10:00 WIB membuat prakarya PGMI yaitu membuat tempat pensil dari kain flannel dengan di dampingi oleh setiap mentor perkelompok, acara berlangsung dengan sangat seru dan asik, karena mereka dapat mengenal antara satu dengan yang lain dan bekerja sama dengan baik. Rencananya hasil karya tempat pensil ini akan kami sumbangkan untuk sekolah di bawah rata-rata yang bersangkutan dengan program kami selanjutnya yaitu Kelas Insprasi PGMI. Usai membuat prakarya di lanjutkan dengan makan bersama antar kelompok dan sholat berjamaah seluruh mahasiswa PGMI. Di akhir acara PBAK jurusan di tutup dengan do’a dan sesi foto bersama mahasiswa PGMI panitia dan MABA PGMI 2017.

Menumbuhkan Nilai-Nilai Pancasila



Menumbuhkan Nilai-Nilai Pancasila
Pada tahun 70-80’n Sebelum pancasila dijadikan landasan dasar, ada perdebatan tentang islam dan komunis. Tidak terbayangkan apabila landasan negara kita ini berlandaskan islam, bukan tidak bisa layaknya saudi arabia dan palestine. Hanya saja penduduk diIndonesia ini bukan lah sepenuhnya islam, melainkan berbagai macam agama, adat dan budaya. Banyak orang yang mempersalahkan peribadahan, bukan hanya dengan agama lain, di agama islam itu sendiri pun banyak perbedaan dan perdebatan, berbeda sedikit di sebut bid’ah, berbeda sedikit di bilang kafir, hal ini terjadi karena banyak orang yang tidak mengerti arti dari agama itu sendiri.
Pancasila itu toleransi & bineka, membolehkan aktifitas apapun asal tidak keluar dari UUD dan pancasila itu sendiri. Karena semboyannya adalah bineka tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu tujuan. Pada jaman soeharto sudah di pikirkan dengan matang-matang untuk menggunakan landasan negara yang tidak dengan islam, karena akan ada perbedaan, maka dari itu di putuskan lah pancasila sebagai landasan dasar negara.
Seperti kasus yang sedang ada di ranting paling atas ini, yaitu penistaan agama yang dijatuhkan tuntutannya kepada Ahok. Pada AKSI 212 dan sebagainya, bukan hanya puluhan melaikan jutaan orang datang untuk mengapresiasikan pendapatnya tentang penistaan agama. Tanpa kita sadari, dari AKSI ini mengatakan bahwa Ahok seorang kafir. Dan sangat jelas bahwa permasalahan ini di angkat dari perbedaan agama. Namun, kenapa Ahok saja yang di permasalahkan yang hanya menyebutkan surat Al-Maidah ayat 31 tanpa sengaja, sedangkan di luar sana, sangat banyak orang yang menistakan agama dengan sengaja dan penuh kesadaran. Hanya saja karena Ahok di calonkan sebagai ketua gubernur DKI, bukan kah ini sudah jelas, topik ini di angkat karena ada unsur politik di belakangnya.
Di perkulaian tempat terkumpulnya pemahaman-pemahaman yang berbeda. Pada tahun 2001 sedang ada kasus di Amerika, UIN yang dahulu di sebut dengan IAIN menolak kewajiban berkerudung, bahkan penistaan-penistaan agama di perkuliahan jauh lebih dalam

Rabu, 22 Maret 2017

Fungsi, Tujuan dan Acuan Penilaian Pembelajaran


Fungsi, Tujuan dan Acuan Penilaian Pembelajaran
Desi Ayu Lestari

Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Evaluasi pembelajaran merupakan satu kompetensi professional seorang pendidik. Kompetensi tersebut sejalan dengan instrumen penilaian kemampuan guru, yang salah satu indikatornya adalah melakukan evaluasi pembelajaran. Maka dari itu sebagai guru profesional harus memahami dengan baik apa itu tujuan, fungsi dan acuan penilaian evaluasi pembelajaran. Agar tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai dengan apa yang ditetapkan sebelumnya.
Kata konci : Tujuan, Fungsi dan Acuan penilaian Pembelajaran.
PENDAHULUAN
Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar siswa, perlu dilakukan suatu penilaian terhadap hasil belajar. Penilaian dan evaluasi merupakan suatu yang terikat, karena keduanya saling berkaitan. Dari persamaannya keduanya mempunyai pengertian menilai atau menentukan nilai sesuatu. Di samping itu, alat yang digunakan untuk mengumpulkan datanya juga sama, dengan tes dan non-tes. Seperti yang di lakukan satuan pendidikan pada umumnya dengan mengadakan pengujian di tengah (UTS) dan akhir semester (UAS). Sedangkan perbedaannya terletak pada ruang lingkup (scope) dan pelaksanaannya. Ruang lingkup penilaian lebih sempit dan biasanya hanya terbatas pada salah satu komponen atau aspek saja. Pelaksanaan penilaian biasanya dilaksanakan dalam kontek internal.
Dalam setiap kegiatan evaluasi, langkah pertama yang harus Anda perhatikan adalah tujuan evaluasi. Penentuan tujuan evaluasi sangat bergantung dengan jenis evaluasi yang digunakan. Tujuan evaluasi ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Jika Anda merumuskan tujuan evaluasi masih bersifat umum, maka Anda harus merinci tujuan umum tersebut menjadi tujuan khusus, sehingga dapat menuntun Anda dalam menyusun soal atau mengembangkan instrumen evaluasi lainnya. Ada dua cara yang dapat Anda tempuh untuk merumuskan tujuan evaluasi yang bersifat khusus. Pertama, melakukan perincian ruang lingkup evaluasi. Kedua, melakukan perincian proses mental yang akan dievaluasi. Cara pertama berhubungan dengan luas pengetahuan sesuai dengan silabus mata pelajaran dan cara kedua berhubungan dengan jenjang pengetahuan, seperti yang dikembangkan Bloom dkk.
Di samping tujuan evaluasi, Anda juga harus memahami fungsi evaluasi. Fungsi evaluasi memang cukup luas, tetapi paling tidak Anda dapat meninjaunya dari jenis evaluasi yang digunakan, seperti evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Dan juga harus mengetahui Acuan penilaian, agar kita dapat mengetahui apa saja yang harus kita nilai dan apa yang harus kita perhatikan. Agar tujuan pembeljaran dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.
TUJUAN PENILAIAN PEMBELAJARAN
Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem pembelajaran, baik yang menyangkut tentang tujuan, materi, metode, model, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri. Sedangkan tujuan khusus evaluasi pembelajaran disesuaikan dengan jenis evaluasi pembelajaran itu sendiri. Seperti evaluasi perencanaan dan pengembangan evaluasi monitoring evaluasi dampak, evaluasi efisiensi-ekonomis dan evaluasi program komprehensip.
Dalam konteks yang lebih luas lagi, Sax (1980 : 28) mengemukakan tujuan evaluasi dan pengukuran adalah untuk “selection, placement, diagnosis and remediation, feedback : norm referenced and criterion-referenced interpretation, motivation and guidance of learning, program and curriculum improvement : formative and summative evaluations, and theory development”. (seleksi, penempatan, diagnosis dan remediasi, umpan balik : penafsiran acuran-norma dan acuan-patokan, motivasi dan bimbingan belajar, perbaikan program dan kurikulum : evaluasi formatif dan sumatif, dan pengembangan teori).
Menurut Kellough dan Kellough dalam Swearingen (2006) tujuan penilaian adalah untuk membantu belajar peserta didik, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan peserta didik, menilai efektifitas strategi pembelajaran, menilai dan meningkatkan efektifitas program kurikulum, menilai dan meningkatkan efektifitas pembelajaran, menyediakan data yang membantu dalam membuat keputusan, komunikasi dan melibatkan orang tua peserta didik. Sementara itu, Chittenden (1994) mengemukakan tujuan penilaian (assessment purpose) adalah “keeping track, checking-up, finding-out, and summing-up”.
1.      Keeping track, yaitu untuk menelusuri dan melacak proses belajar peserta didik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah ditetapkan. Untuk itu, guru harus mengumpulkan data dan informasi dalam kurun waktu tertentu melalui berbagai jenis dan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran tentang pencapaian kemajuan belajar peserta didik.
2.      Checking-up, yaitu untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran dan kekurangan-kekurangan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran. Dengan kata lain, guru perlu melakukan penilaian untuk mengetahui bagian mana dari materi yang sudah dikuasai peserta didik dan bagian mana dari materi yang belum dikuasai.
3.      Finding-out, yaitu untuk mencari, menemukan dan mendeteksi kekurangan kesalahan atau kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga guru dapat dengan cepat mencari alternatif solusinya.
4.      Summing-up, yaitu untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. Hasil penyimpulan ini dapat digunakan guru untuk menyusun laporan kemajuan belajar ke berbagai pihak yang berkepentingan.
Adapun tujuan penilaian hasil belajar adalah :
a.       Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah diberikan.
b.      Untuk mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat, dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran.
c.       Untuk mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta didik dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
d.      Untuk mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Keunggulan peserta didik dapat dijadikan dasar bagi guru untuk memberikan pembinaan dan pengembangan lebih lanjut, sedangkan kelemahannya dapat dijadikan acuan untuk memberikan bantuan atau bimbingan.
e.       Untuk seleksi, yaitu memilih dan menentukan peserta didik yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu.
f.       Untuk menentukan kenaikan kelas.
g.      Untuk menempatkan peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.24 | Evaluasi Pembelajaran Modul 1
Anda juga perlu mengetahui tingkat kemajuan peserta didik, sebab pengetahuan mengenai kemajuan peserta didik mempunyai bermacam-macam kegunaan.
Pertama, Anda dapat mengetahui kedudukan peserta didik dalam kelompoknya. Anda dapat memprakirakan apakah seorang peserta didik dalam kelompoknya dapat dimasukkan ke dalam golongan anak yang biasa atau yang luar bisa dalam arti supergenius atau lambat majunya. Anda juga dapat membuat perencanaan yang realistis mengenai masa depan anak. Hal ini penting, karena keberhasilan peserta didik sebagai anggota masyarakat dikelak kemudian hari akan ditentukan oleh ada tidaknya perencanaan masa depan yang realistis ini.
Kedua, apabila pengetahuan tentang kemajuan peserta didik tadi digabungkan dengan pengetahuan tentang kapasitas (kemampuan dasar) peserta didik, maka ia dapat dipergunakan sebagai petunjuk mengenai kesungguhan usaha anak dalam menempuh program pendidikannya. Melalui petunjuk ini pula kita dapat membantu peserta didik sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
Tujuan manapun yang akan dicapai, Anda tetap harus melakukan evaluasi terhadap kemampuan peserta didik dan komponen-komponen pembelajaran lainnya.
 Menurut tujuannya dapat terbagi menjadi dua bagian, yaitu : tujuan secara umum dan tujuan secara khusus
1.      Tujuan umum
Secara umum tujaun evaluasi pembelajaran ada dua
a.       Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu
b.      Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari model-model pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
2.      Tujuan khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi pendidikan  adalah :
a.       Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
b.      Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidak berhasilan peserta didik dalam pengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar cara-cara perbaikannya.
c.       Untuk mengenai sasaran evaluasi pembelajaran yang dijadikan pusat perhatian atau pengamatan, karena pihak penilaian (evaluator) ingin memperoleh informasi tentang kegiatan atau proses pembelajaran tersebut, yang meliputi tiga aspek, yaitu; (1) aspek kemampuan, (2) aspek kepribadian, dan (3) aspek sikap.

FUNGSI  EVALUASI PEMBELAJARAN
Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu (1) pengukuran kemajuan, (2) menunjang penyusunan rencana, dan (3) memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali. Seperti yang kita ketahui bahwa, evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk mengukur dan selanjutnya menilai, sampai dimanakah keefektifan pembelajaran.
Evaluasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan, akan membuka peluang bagi evaluator untuk membuat perkiraan (estimations) apakah tujuan yang di rumuskan akan dapat dicapai pada waktu yang telah di tentukan, ataukah tidak. Adapun cara khusus, fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditilik dari tiga segi, yaitu: (1) segi psikologis, (2) segi didaktik, dan (3) segi administratif.
Secara psikologis, kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan di sekolah dapat disoroti dari dua sisi, yaitu dari sisi peserta didik dan dari sisi pendidik. Bagi peserta didik, evaluasi pendidikam secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin kepada mereka untuk mengenal kapasitas dan status dirinya masing-masing di tengah-tengah kelompok atau kelasnya, dan dapat memberikan motivasi (dorongan) kepada mereka untuk dapat memperbaiki, meningkatkan dan mempertahankan prestasinya. Bagi pendidik, evaluasi pendidikan akan memberikan kepastian atau ketepatan hati pada diri pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya usaha yang telah dilaksanakan selama ini telah membawa hasil, sehingga ia secara psikologis memiliki pedoman atau pegangan batin sehingga yang pasti guna menentukan langkah-langkah apa saja yang dipandang perlu dilakukan selanjutnya untuk memperbaiki dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaaran.
Secara didaktik, bagi peserta didik evaluasi pendidikan (khususnya evaluasi hasil belajar) akan dapat memberikan dorongan (motivasi) kepada mereka untuk dapat memperbaiki, meningkatkan dan mempertahankan prestasinya. Bagi pendidik evaluasi pendidikan itu setidak-tidaknya memiliki lima macam fungsi :
1.      Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya.
2.      Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya.
3.      Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik
4.      Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya.
5.      Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah di tentukan telah dapat di capai.
Adapun menurut Administratif, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga macam funsi, yaitu:
1.      Memberikan laporan
Dengan melakukan evaluasi, akan dapat disusun dan disajikan laporan mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Laporan umumnya tertuang dalam bentuk buku laporan kemajuan belajar siswa, yang lebih dikenal dengan istilah Rapot (untuk peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah), atau Kartu Hasil Studi (KHS), bagi peserta didik di lembaga pendidikan tinggi.
2.      Memberikan bahan-bahan keterangan (Data)
Setiap keputusan pendidikan harus didasarkan kepada data yang lengkap dan akurat. Data merupakan evaluasi yang penting dalam mengambil keputusan pendidikan dan lembaga pendidikan : apakah seseorang peserta didik dapat dinyatakan tamat belajar, naik kelas, tinggal kelas, lulus atau tidak lulus dan sebagian
3.      Memberikan gambaran
Gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam proses pembelajaran tercermin antara lain dari hasi;-hasil belajar para peserta didik setelah dilakukannya evaluasi hasil belajar.

ACUAN PENILAIAN PEMBELAJARAN
Pengelolaan hasil pengukuran dalam evaluasi pembeljaran dilakukan sesuai dengan tujuan pengukuran yang dilaksanakan. Jika penilaian bertujuan untuk membandingkan keberhasilan seorang pesetra didik secara relatif dengan peserta didik lainnya. Maka dilakukan penilaian acuan normal (PAN). Apabila penilaian bertujuan untuk mengetahui keberhasilan seorang peserta didik berdasarkan satuan acuan tertentu maka dilakukan penilaian acuan patokan (PAP)
            Tujuan penilaian acuan normal (PAN) adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan, mulai dari yang rendah sampai dengan tertinggi. Secara ideal, pendistribusian tingkat kemampuan dalam satu kelompok menggambarkan suatu kurva normal.
            Sedangkan penilain acuan patokan (PAP) meneliti apa yang dapat dikerjakan oleh peserta didik, dan bukan membandingkan seorang peserta didik dengan teman sekelasnya, melainkan dengan suatu kriteria atau patokan spesifik. Tujuan penilaian acuan patokan adalah untuk mengukur secara pasti tujuan atau kompetensi yang ditetapkan sebagai kriteria keberhasilan. Pendekatan ini pada umumnya digunakan untuk menafsirkan hasil tes formatif.
a.       Penilaian Acuan Norma (PAN)
(Slameto, 1988) istilah ‘’norma’’ menunjukan kapasitas atau prestasi kelompok, sedangkan yang dimaksud dengan ‘’kelompok’’ adalah semua peserta didik yang mengikuti tes tersebut. Jadi pengertian ‘’kelompok’’ yang dimaksudkan depat berarti sejumlah peserta didik dalam satu kelas, sekolah, rayon, propinsi, atau wilayah.
Penilaian Acuan Norma (PAN) adalah penilaian yang menggunakan acuan pada rata-rata kelompok. Dengan demikian dapat diketahui posisi kemampuan siswa dalam kelompoknya. Untuk itu norma atau kriteria yang digunakan dalam menentukan derajat prestasi seorang siswa selalu dibandingkan dengan nilai rata-rata kelasnya. Atas dasar itu akan diperoleh tiga kategori prestasi siswa, yakni prestai siswa di atas rata-rata kelas, berkisar pada ratarata kelas, dan prestasi siswa yang berada di bawah rata-rata kelas. Dengan kata lain, prestasi yang dicapai seseorang posisinya sangat bergantung pada prestasi kelompoknya.
            Penilaian acuan normal dapat diilustrasikan sebagai ujian nasional (UN) dikenal adanya nilai UN murni yang berasal dari penilaian yang dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan persentase yang menunjukan tingkat kemampuan atau penguasaan peserta didik tentang  materi ajar yang diujikan.
            Pengelolaan nilai dengan cara PAN dapat dilakukan dengan statistik. Dalam hubungan ini, penentuan normal kelompok besarnya prestasi kelompok yang merupakan acuan penilaian seperti terlihat dalam rumusan tentang PAN yang menggunakan tendensi central seperti rata-rata hitung (mean), median, modus, percentile, dan lain-lain.
Dengan demikian, penilaian dalam sistem PAN ini adalah kemampuan rata-rata kelompok, kemudian individu diukur seberapa jauh penyimpangan terhadap rata-rata tersebut. Hal ini berarti bahwa tes yang digunakan harus dapat memberikan gambaran distriminatif antara kemampuan peserta didik yang pandai dengan peserta didik yang kurang pandai. Dalam kaitannya dengan daya diskriminatif itu mencakup : (1) daya diskriminasi antara peserta didik, (2) daya diskriminasi antara situasi pembeljaaran, dan (3) daya diskriminasi antar kelompok.
b.      Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Slameto, (1988) nilai-nilai yang diperoleh peserta didik dikaitkan dengan tingkat pencapaian penguasaan (mastery) peserta didik tentang materi pengajaran sesuia dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hal senada juga diungkapkan Shirran (2008) menjelaskan PAP memfokuskan pada apa yang mampu dikerjakan peserta didik dan apakah peserta didik tersebut menguasai mata pelajaran
 Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah penilaian yang menggunakan acuan pada tujuan pembelajaran atau kompetensi yang harus dikuasai siswa. Derajat keberhasilan siswa dibandingkan dengan tujuan atau kompetensi yang seharusnya dicapai atau dikuasai siswa bukan dibandingkan dengan prestasi kelompoknya. Dalam penilaian ini ditetapkan kriteria minimal harus dicapai atau dikuasai siswa. Kriteria minimal yang biasa digunakan adalah 80% dari tujuan atau kompetensi yang seharusnya dikuasai siswa. Makin tinggi kriterianya makin baik mutu pendidikan yang dihasilkan. Standar penilaian acuan patokan berbasis pada konsep belajar tuntas atau mastery learning. Artinya setiap siswa harus mencapai ketuntasan belajar yang diindikasikan oleh penguasaan materi ajar minimal mencapai kriteria yang telah ditetapkan. Jika siswa belum mencapai kriteria tersebut siswa belum dinyatakan berhasil dan harus menempuh ujian kembali. Karena itu penilaian acuan patokan sering disebut stándar mutlak
Tujuan PAP adalah untuk mengukur secara pasti tujuan atau kompetensi yang ditetapkan sebagai kriteria keberhasilannya. Penilaian acuan patokan bermanfaat dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar sebab peserta didik diusahakan untuk mencapai standar yang telah ditentukan dan hasil belajar peserta didik dapat diketahui derajat pencapaiannya. (Arifin, 2009) untuk mencapai tujuan PAP tersebut maka dalam hal ini davies (1991) menjelaskan tiga syarat yang harus dipenuhi:
1.      Tepat. Tes PAP harus sesuai dengan tujuan-tujuan, dengan bahan pelajaran. Dengan strategi pembeljaran yang digunakan serta dengan peserta didik yang akan menjawab.
2.      Efektif. Tes PAP harus dapat dilakukan tugasnya dengan baik. Itu berarti bahwa hal itu harus diandalkan (realibel)dan sahih.
3.      Praktis. Dalam pengertian ini. Tes PAP harus dapat diterima baik oleh guru maupuan peserta didik. Hal itu harus realistis dalam pembiayaan dan waktu yang digunakan dalam pelaksanaan serta mudah digunakan.
REFERENSI
Sudiyono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:PT Rajagrafindo Persada
Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama RI.
Dharma, Surya. 2008. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta : Direktur Tenaga Kependidikan